Ku sodorkan perkelahian ini antara cita dan cinta
Kau meraihnya tenang seolah kau bisa
Menyelesaikan perkelahian hingga akhir masa
Menyelami, memapah, mematri asa
Sedetik demi sedetik beranjak
Memupuki rasa merajut mimpi
Menapaki krikil kesunyian
Kerinduan menggelagak
Katamu; Tuhan, menyelipkan senyuman untuk kita!
Tuhan begitu hebat memberikan kebahagia tanpa melihat!
memberikan senyum dan tawa hanya dengan mendengar!
Dan, memberikan kesakitan tanpa tangan.
Aku; kau cecar Tuhanmu apa-apa yang kamu lakukan
kau menebasnya tanpa melihat, menankjubkan; kau tunjuki aku lidah bukan semata pisau melainkan golok!
itu bukan Tuhan, kau ya itu kau bukan Tuhan!
Meski hanya mendengar tanpa melihatmu, sekian lama. Aku;
Masih dalam anyaman luka, aku bersandar di jaring-jaringnya. Sebentar aku kembali merajutnya. Sebentar lagi aku ‘kan kembali bersandar. Dengan tangisan kalap tanpa air mata. Aku katakan pada sendiri; Sampai kapan anyaman luka berlalu?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar